Selasa, 28 Desember 2010

Shijin (4 penjaga mata angin)

1. SUZAKU - Sang Penjaga Selatan
Burung Zhu Que adalah salah satu dari Empat Simbol dari rasi Cina. Menurut Wu Xing, Tao-unsur lima sistem, mewakili unsur api, arah selatan, musim panas. Jadi kadang-kadang disebut burung Vermilion Selatan dan juga dikenal sebagai Suzaku di Jepang dan Jujak di Korea. Hal ini sering keliru untuk Fenghuang karena kesamaan dalam penampilan, tetapi dua makhluk berbeda. Fenghuang adalah raja dari burung, sementara Vermilion Burung adalah makhluk roh mitologis dari konstelasi Cina






Burung Suzaku yang merupakan burung yang elegan dan mulia baik dalam penampilan dan perilaku, sangat selektif dalam apa yang makan dan tempat bertengger, dengan bulu-bulu dalam berbagai warna dari oranye kemerahan.
Suzaku yang sering dikaitkan dengan mitos Phoenix karena asosiasi mereka dengan api.


2. SEIRYU - Sang Penjaga Timur
Seiryu adalah salah satu dari Empat Simbol dari rasi Cina. Kadang-kadang disebut Naga Azure dari Timur, dan dikenal sebagai Seiryuu di Jepang dan Cheongryong di Korea. Ini mewakili timur dan musim semi. Menurut Wu Xing, Seiryu berelemen kayu (Wood). Jangan terkecoh dengan mitologi naga kuning yang berhubungan dengan Kaisar Cina.



Di Jepang, Azure Dragon (Seiryuu) adalah salah satu dari empat roh wali kota dan dikatakan untuk melindungi kota Kyoto di timur. Barat dilindungi oleh Macan Putih, di sebelah utara dilindungi oleh Black Tortoise, selatan dilindungi oleh Vermilion Bird, dan pusat dilindungi oleh Yellow Dragon. Di Kyoto terdapat kuil untuk masing-masing roh penjaga. The Azure Dragon ini diwakili dalam Kuil Kiyomizu di timur Kyoto. Sebelum pintu masuk candi terdapat patung naga yang katanya minum dari air terjun di dalam kompleks candi di malam hari. Oleh karena itu setiap tahun diadakan upacara untuk menyembah naga dari timur.



Di Jepang, naga biru adalah salah satu dari empat roh wali kota dan negara bagian yang melindungi kota Kyoto di timur. Barat dilindungi oleh Byakko, Genbu utara dan selatan oleh Suzaku. Di Kyoto terdapat kuil untuk masing-masing roh penjaga. Kiyomizu Temple adalah naga biru. Sebelum memasuki candi adalah sebuah patung naga, yang katanya akan minum di tengah malam dari sumber di dalam kompleks candi. Kemudian berkumpul di upacara untuk menyembah naga dari timur.


3. BYAKKO - Sang Penjaga Barat
Macan Putih adalah salah satu dari Empat Simbol dari rasi Cina. Hal ini kadang-kadang disebut Macan Putih Barat, dan dikenal sebagai Byakko di Jepang dan Baekho di Korea. Ini mewakili barat dan musim gugur, dan unsur besi.



Selama Dinasti Han, orang-orang percaya bahwa harimau menjadi raja dari semua binatang. Legenda menceritakan bahwa ketika seorang harimau mencapai 500 tahun, ekornya akan menjadi putih. Dengan cara ini, harimau putih menjadi semacam makhluk mitologis. Konon harimau putih hanya akan muncul ketika kaisar memerintah dengan kebajikan mutlak, atau jika ada perdamaian di seluruh dunia. Karena warna putih dari cina juga mewakili lima unsur barat, harimau putih dengan demikian menjadi wali mitologi barat.



Dalam Kitab Tang, yang reinkarnasi dari Byakko adalah Li Luo Cheng dan reinkarnasi Seiryu adalah dikatakan sebagai pemberontak dinamakan Xiongxin . Mereka berdua adalah saudara bersumpah pada Qin Shubao, Cheng Zhijie dan Yuchi Jingde. Jiwa mereka setelah kematian dikatakan memiliki tubuh pahlawan baru Dinasti Tang dan Dinasti Liao, Xue Rengui dan Dia Suwen Dalam beberapa legenda dari Dinasti Tang, Rengui Xue ia dikatakan sebagai reinkarnasi dari Byakko, dan musuh bebuyutan, Dinasti Liao pangeran Suwen Dia adalah reinkarnasi dari Seiryu.


4. GENBU - Sang Penjaga Utara
Kura-kura Hitam dari Utara atau Shadow Warrior adalah salah satu dari empat titik kardinal dan totem binatang zodiak Cina. Hal ini juga salah satu dari empat fantastis hewan dari teori empat elemen. Genbu mewakili arah Utara dan berhubungan dengan air.



Nama cinanya terdiri dari Xuan, "kabur" dan wǔ, "pejuang", merujuk pada cangkangnya baju besi. Juga disebut "kura-kura-ular", biasanya digambarkan sebagai seorang penyu di sekitar yang melilitkan ular. Wujud ini bisa menjadi mitos asal mengklaim bahwa kura-kura laki-laki sering tak berdaya, menyatukan wanita dengan ular. Kepercayaan ini di balik simbolisme yang kontradiktif binatang suci sejak zaman dahulu karena kembali representasi alam semesta, kadang-kadang tidak bermoral.

Minggu, 05 Desember 2010

AZAZ-AZAZ MEDIA PENDIDIKAN

AZAZ-AZAZ MEDIA PENDIDIKAN

Makalah


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Teknologi Pendidikan
Pengampu : Drs. Fatah Syukur NC, M.Ag






Disusun Oleh:
ANRY PRASETYO
(083111138)



FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010





AZAZ-AZAZ MEDIA PENDIDIKAN


I.PENDAHULUAN
Media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanajang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungki disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.
Apabila proses belajar itu diselanggarakan secara formal di sekolah- sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut di pengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas murid, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, nahan atau materi pelajaran (buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video atau audio, dan yang sejenisnya), dan berbagai sumber belajar dan fasilitasnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalampemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapt disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemingkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Gruru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Di samping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pengajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pengajaran.

II.RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Media Pendidikan?
B. Apa Fungsi dan Tujuan Media Pendidikan?
C. Apa Saja Pola Media Pendidikan?
D. Apa Saja Kriteria dalam Pemilihan Media?

III.PEMBAHASAN
A. Pengertian Media Pendidikan
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medòë adalh perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.1
Robert Hanick dan kawan-kawan (1986) mendefiniskan media adalah sesuatu yang membawa informasi antara sumber ( source) dan penerima (riciever) informasi. Masih dalam sudut yang sama Kemp dan Dayton mengemukakan peran media dalam proses komunikasi sabagai alat pengirim (tranfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sender) kepada penerima pesan atau informasi (reciever).2
Sedangkan Oemar Hamalik mendefinisikan media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mngefektifkan komunikasi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.3
Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Pengguanaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Dari uarian mengenai pendidikan dan pengajaran sebagaimana telah diuraikan di atas nampak jelas peran media pengajaran merupakan sebagai perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku, teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih kusus, pengertian media dalam proses belaajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. 4
Kalau kita lihat perkembangannya, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun sayang, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek disain, pengembangan pembelajaran (instruction) produksi dan evaluasinya. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA). 5

B. Fungsi dan Tujuan Media Pendidikan
Pada awalnya, kita hanya mengenal media adalah sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni yang memberikan pengalama visual pada anak dalam rangka mendorong motivasi dalam belajar, memperjelas, dan mempermudahkan dalam konsep yang komplek dan abstrak menjadi sederhana, konkret, dan mudah dipahami.
Dewasa ini dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan, maka media pengajar berfungsi sebagai berikut:
1.Membantu mempermudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.
2.Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi konkret).
3.Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).
4.Semua indera murid dapat diaktifkan.
5.Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.
6.Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitasnya.6

Levie & Lenzt (1982) mengmukakan empat fungsi media pengajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris.
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pekerjaan yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. 7


Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
Fungsi kompentatoris media pengajaran terlihat daei hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk megorganisasikan informasi dalam teks dan mrngingatnya kembali. Dengan kata lain, media pengajaran berfungsi unruk mrngakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yanf disajikan drngan taks atau disajikan secara verbal.8

Media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang gilirannya siharapkan mempetinggi hasil belajar yang hendak dicapai. Ada beberapa alasan media pengajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa.
Pertama , berkenaan tentang menfaat media pengajaran sebagai berikut:
a. pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa.
c. metode pengjaran akan lebih variasi, tidak semata-mata komunikasi verbal.
d. siswa lebh banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga punya aktifitas lain seperti mengamati, merumuskan, melakukan, dan mendemonstrasikan.9


Kedua, penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar yang berkenaan dengan taraf pikir siswa. Berfikir siswa dimulai dari yang konkret menuju yang komplek. 10

Ketentuan tentang tujuan pendidikan Pancasila telah ditetapkan dalam sidang MPRS Indonesia No. XXVII/MPRS 1966 bab 2 pasal 3 dan 4 yang berbunyi sebagai berikut:
“ Tujuan pendidikan, membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945”
berdasarjan pada ketentuan di atas maka tujuan pendidikan adalah sebagai berikut:
1.memperbaiki mental, moral, budi pekerti, memperkuat keyakinan agama.
2.Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.
3.Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.
Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan itu masih bersifat umum dan hanya mungkin dicapai dalam waktu yang panjang.
Sebagai seorang pendidik perumusan tujuan merupakan suatu hal yang pokok sebelum melakukan kegiatan pengajaran. Untuk meneruskan tujuan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1.berorientasi pada kepentingan siswa, pada guru titik tolaknya adala perubahan pada tingkah laku.
2.Dinyatakan pada kata kerja yang operasional artinuan menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat doikir dengan alat ukur tertentu.11

Jadi, seorang guru disini diharapkan agar dapat menguasai media pendidikan dan metode pendidikan di dalam mengajar, selain itu dalam perumusan tujuan pendidikan haruslah jelas, dan terinci, sehingga dalam pemanfaatan media tersebut menjadi baik, efektif, dan efisien.

C. Pola Media Pendidikan
Media pendidikan tidaklah terbatas pada alat-alat audifisual yang dapat dilihat, didengar melainkan anak dapat melakukannya sendiri. Dalam hal ini maka tercakup pula di dalamnya pribadi dan tingkah laku guru.




Secara menyeluruh, pola media pendidikan terdiri dari:
1.Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis) misalnya buku, komik, koran, majalah, buletin, folder, perodikal dan pamflet, dan lain-lain.
2.Alat-alat audivisual, alat-alat yang tergolong seperti ini seperti:
a. media pendidikn tanpa proyeksi, misal papan tulis, papan tenpel, papan planel,      bagan diagram, gtafik, karton, gambar.
b. media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan,      contoh diorama, boneka, dan lain-lain.
c. media yang menggunakan teknik atau masinal. Alat-alat yang tergolong ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau indtruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer.
3.Sumber-sumber masyarakat , berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.
4.Kumpulan benda-benda, berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah unruk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain.
5.Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru, meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.12

D. Kriteria dalam Pemilihan Media
Media merupakan salah satu sarana untuk meningkatakan kegiatan proses belajar mengajar. Karena beraneka ragamnya media tersebut, maka masing-masing media mempunyai karakteristik yang berbeda- beda, untuk itu perlu memilihnya dengan cara yang cermat dan tepat agar dapat digunakan secara tepat guna.13
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapatkan pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:
1.Motivasi. Harus ada kebutuhan,minat, atau keinginan untuk belajar dari pihak siswa sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjakan tugas dan latihan. Lagi pula, pengalaman yang akan dialami siswa harus relevan dengan dan bermakna baginya. 14

Oleh karena itu, perlu untuk melahirkan minat itu dengan perlakuan yang memotivasi dari informasi yang terkandng dalam media pengajaran itu.
2.Perbedaan individual. Siswa belajar dengan cara dan tingkat kecepatan yang berbeda-beda. Faktor-faktor seperi kemampuan intelejensi, tingkat pendidikan, kepribadian, dan gaya belajar mempengaruhi kemampuan dan kesiapan siswa untuk belajar. Tingkat kecrpatan penyajian informasi melalui media harus berdasarkan kepada tingkat pemahaman.
3.Tujuan pembelajaran. Jika siswa diberitahukan apa yang diharapkan mereka pelajari melalui media pengajaran itu, kesempatan untuk berhasil dalam pembelajaran semakin besar. Disamping itu oernyataan mengenai tujuan belajar yang ingin dicapai dapat menolong perancangan dan penulis materi pelajaran. Tujuan ini akan menentukan bagian isi yang mana yang harus mendapatkan perhatian pkok dalam media pengajaran.
4.Organisasi isi. Pembelajaran akan lebih mudah jika isi dan prosedur atau keterampilan fisik yang akan dipelajari diatur dan diorganisasikan ke dalam urut-urutan yang bermakna. Siswa akan memahami dan mengingat lebih lama materi pelajaran yang secara logis disusun dan diurutkan secara teratur. Disamping itu, tingkatan materi yang akan disajikan ditetapkan berdasarkan kompleksitas dan tingkat kesulitan isi materi. Dengan cara seperti ini dalam pengembangan dan penggunaan media, siswa dapat dibantu untuk secara lebih baik mensistesis dan memadukan pengetahuan yang akan dipelajari.
5.Persiapan sebelum balajar. Siswa sebaiknya telah menguasai secara baik pelajaran dasar atau memiliki pengalaman yang diperlukan secara memadai yang mungkin merupakan prasyarat untuk penggunaan media dengan sukses. Dengan kata lain, ketika merancang materi pelajaran, perhhatian harus ditujukan kepada sifat dan tingkat persiapan siswa.
6.Emosi. Pembelajaran yang melibatkan emosi dan perasaan pribadi serta kecakapan amat berpengaruh dan bertahan. Media pengajaran adalah cara yang sangat baik untuk menghasilkan respon emosional seperti takut, cemas, empati, cinta kasih, dan kesenangan. Oleh karena itu, perhatian khusus harus ditujukan kepada elemen-elemen rancangan media jika hasil yang diinginkan berkaitan dengan pengatahuan dan sikap.15

7.Partisipasi. Agar pembelajaran nerlangsung dengan baik, seorang siswa harus menginternalisasi informasi, tidak sekedar diberitahukan kepadanya. Oleh sebab itu, berlajar memerlukan kegiatan. Partisipasi aktif oleh didwa jauh lebih baik dari pada mendengarkan dan menonton secara pasif. Partisipsi artinya kegiatan mental atau fisik yang terjadi di sela-sela penyajian materi pelajaran. Dengan pertisipasi kesempatan lebih besar terbuka bagi siswa untuk memahami dan mengingat materi pelajaran itu.
8.Umpan balik. Hasil balajar dapat meningka apabila secara brtkala siswa diinformasikan kemajuan balajarnya. Pengetahuan tentang hasil belajar, pekerjaan yang baik, atau kebutuhan untuk perbaikan pada sisi-sisi tertentu akan memberikan sumbangan terhadap morivasi belajar yang berkelanjutan.
9.Pengutan ( reinforcement). Apabila siswa berhasil belajar, ia didorong untuk terus belajar. Pembelajaran yang didorong oleh keberhasilan amat bermanfaat, dapat membangun kepercayaan diri, dan secara positif mempengaruhi perilaku di masa yang akan datang.
10.Latihan dan pengulangan. Sesuatu hal baru jarang sekali dapat dipelajari secara efektif hanya dengan sekali jalan. Agar suatu pengetahuan atau keterampilan dapat menjadi bagian kompetensi atau kecakapan intelektual seseorang, haruslah pengetahuan atau keterampilan itu sering diulangi dan dilatih dalam berbagai konteks. Dengan demikian ia dapat tinggal dalam ingatan jangka panjang.
11.Penerapan. Hasil belajar yang fiinginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk menerapkan atau mentranfer hasil belajar pada masalah atau situasi baru. Tanpa dapat melakukan ini, pemahaman sempurna belum dapat dikatakan dikuasai. Siswa mesti telah pernah dibantu untuk mengenali atau menemukan generallisasi (konsep, prinsip, atau kaidah) yang berkaitan dengan tugas. Kemudian siswa dibrti kesempatan untuk bernalar dan memutuskan dengan menerapkan generalisasi atau prosedur terhadap berbagai masalah atau tugas baru.16




Adapun beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media adalah sebagai berikut :
1.Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan inftruksionalnya yang telah ditetapkan yang secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomitor. Tutuan ini dapat digambarkan falam bentuk tugas yang harus dikrtjakan/dipertujukan oleh siswa, seperti menghafal, melakikan kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik atau pemakaian prinsip-prinsip saperti sebab dan akibat, melakukan tugas yang melibatkan pemahaman konsep-konsep atau hubungan-hubungan perubahan, dan mengerjakan tugas-tugas yang melibatkan pemikiran pada tingkatan lebih tinggi.
2.Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi. Media yang berbeda, mesalnya film dan grafik memerlukan simbol dan kode yang berbeda, dan oleh kerena itu memerlukan proses dan keterampilan mental yang berbeda untuk memahaminya. Agar dapat membantu proses pembelajaran secara efektif, media harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa. Televisi, misalnya, tepat untuk mempertunjukkan proses dan tranformasi yang memerlukan manipulasi ruang dan waktu.
3.Praktis, luwes, dan bertahan. Jika tidak tersedia waktu, dana, atau sumbrt daya lainnya untuk memproduksi, tidak perlu dipaksakan. Media yang mahal dan memakan eaktu lama untuk memproduksinya bukanlah jaminan sebagai ,edia yang terbaik. Kriteria ini menuntut para gutu/ instruktur untuk memilih media yang ada, mudah diperoleh, atau mudah dibuat sendiri oleh guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan di mana pun dan kapan pun dengan peralatan yang tersedia di dekitarnya, derta mudah dipindahkan dan dibawa ke mana-mana.
4.Guru terampil menggunakannya. Ini merupakan salah satu kriteria utama. Apapun media itu, guru harus mampu menggunakannya dalam proses pembelajaran. Nilai dan menfaat media amat ditentukan oleh gutu yang menggunakannya. Proyektor transparansi (OHP), proyektor slide dan film, komputer, dan peralatan canggih lainnya tidak akan mempunyai arti apa-apa jika gutu belum dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran sebagai upaya mempertinggi mutu dan hasil belajar.17


5.Pengelompokan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau peorangan. Ada media yang tepat untuk jenid kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, dan perorangan.
6.Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Misalnya, visual pada slide harus jelas dan informasi atau pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen-elemen lain yang berupa latar belakang. 18

IV.ANALISIS
Dalam suatu proses pembelajaran tidak akan pernah terlepas dari penggunaan media, sering kali kita mengartikan media pendidikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan alat-alat modern, akan tetapi sebenarnya media pendidikan dapat memiliki cakupan yang luas, tidak hanya diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan ala-alat modern.
Penggunaan media sangatlah membantu dalam proses pembelajaran, yang mana media disini berfungsi sebagai perantara anatara pengirim pesan (pendidik) dan penerima pesan (peserta didik).
Keberhasilan dalam penggunaan media adalah diukur dari seberapa efektif dan efisiennya pesan yang disampaikan dari sumber informasi kepada penerima informasi. jadi jika pengirim pesan dapat menggunakan media dengan baik, maka pesan yang diterima juga akan sesuai dengan tujuan pendidikan. Tidak hanya itu, dari pihak penerima sebaiknya juga mengetahui jenis media apa yang digunakan dan bias menggunakan media tersebut, sehingga penerima akan semakin mudah dalam memahami informasi yang disampaikan dari pengirim informasi (dalam hal ini adalah pendidik).
Media pendidikan juga memiliki pola-pola yang sangat banyak, pola-pola tersebut didasarkan pada jenis materi yang diajarkan, pola media pendidikan ini terdiri dari hal yang sederhana sampai ke hal yang kompleks, dari benda-benda yang ada disekitar hingga sampai kepada alat-alat yang modern.
Sehubungan dengan beraneka ragamnya media pendidikan tersebut, maka masing-masing media mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, untuk itu dalam hal ini perlu memilihnya dengan cara yang cermat dan tepat agar dapat digunakan secara tepat guna pula. Dalam criteria pemilihan media ini adalah di antaranya perlu memperhatikan sehubungan dengan tujuan yang ingin dicapai, sesuai dengan isi informasi, praktis, berkaitan dengan guru (penyampai), dan mutu media tersebut.

V.KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengertian media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat       merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong       terjadinya proses belajar pada dirinya. Pengguanaan media secara kreatif akan       memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan       performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

2. Fungsi media adalah :
Membantu mempermudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan pengajaran bagi guru.
Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi konkret).
Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya tidak membosankan).
Semua indera murid dapat diaktifkan.
Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.
Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitasnya.
Ketentuan tentang tujuan pendidikan Pancasila telah ditetapkan dalam sidang MPRS       Indonesia No. XXVII/MPRS 1996 bab 2 pasal 3 dan 4 yang berbunyi sebagai berikut:
      “ Tujuan pendidikan, membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-       ketentuan seperti yang dikehendaki Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945”
      berdasarkan pada ketentuan di atas maka tujuan pendidikan adalah sebagai berikut:
1.Memperbaiki mental, moral, budi pekerti, memperkuat keyakinan agama.
2.Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.
3.Membina atau memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.

3. Secara menyeluruh, pola media pendidikan terdiri dari:
Bahan-bahan catatan atau membaca (suplementari materialis) misalnya buku, komik, koran, majalah, buletin, folder, perodikal dan pamflet, dan lain-lain.
Alat-alat audivisual, alat-alat yang tergolong seperti ini seperti:
a. media pendidikn tanpa proyeksi, misal papan tulis, papan tenpel, papan planel,      bagan diagram, gtafik, karton, gambar.
b. media pendidikan pada tiga dimensi, misalnya pada benda asli dan benda tiruan,      contoh diorama, boneka, dan lain-lain.
c. media yang menggunakan teknik atau masinal. Alat-alat yang tergolong ini meliputi film strip, film, radio, televisi, laboratorium elektro perkakas atau indtruktif, ruang kelas otomotif, sistem interkomunikasi dan komputer.
Sumber-sumber masyarakat , berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi bahan-bahan masalah-masalah dan sebagainya.
Kumpulan benda-benda, berupa benda-benda yang dibawa dari masyarakat ke sekolah unruk dipelajari, misalnya potongan kaca, benih, bibit, bahan kimia, darah dan lain-lain.
Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru, meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru waktu mengajar, misalnya dengan tangan, kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain.

4. Adapun beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media adalah sebagai       berikut :
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi.
Praktis, luwes, dan bertahan.
Guru terampil menggunakannya.
Pengelompokan sasaranMutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknis tertentu.
Mutu teknis.

VI.PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA



Agus Pribadi, Benni. Media Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka, 1996.
Arsyad, Azhar . Media Pembelajaran. Jakarta: Grafindo Persada, 2003.
Sadiman, Arief S. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1986.
Syukur, Fatah. Teknologi Pendidikan. Semarang: RaSAIL, 2005.
Usman,M.Basyarudin. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Jumat, 22 Oktober 2010

BIODATA

Nama     : Anry Prasetyo
TTL        : Kendal, 18 Desember 1989
Alamat   : Kebonadem Rt 05/ Rw III
                 Singorojo, Kendal
Agama   : Islam
Hobi     : Nonton Film ( Japan Movie)

Riwayat Pendidikan :
SD     2 Kedungsari
SMP  2 Singorojo
SMA  1 Boja



IAIN Walisongo Semarang ( berjalan)
NIM      : 083111138
Jurusan  : PAI

Aq suka warna Biru, coz kayak bangsawan banget cih. aq suka maen game, apalagi game jenis strategi, baca buku aq suka, tapi lebih berminat ke baca manga (komic jepang). hal yang paling g aku suka adalah menunggu,  temen2 bilang aq tu agak japanese,  emang si aq suka hal2 yang berbau jepang. 

moto : "life is that simple to say, doing N no regret....!"

Selasa, 28 September 2010

XP (Xeroderma Pigmentosum)

         Pernah liat film movie " Taiyo no uta ( lagu untuk matahari)"? kisahnya sedih, romantis, lucu, apalagi yang menjadi pemeran utama nya adalah YUI  , dia berperan sebagai Amane Kaoru. Akan tetapi ada sesuatu yang aneh yang dialami Kaoru, dia tidak pernah keluar rumah di siang hari, Dia hanya bisa keluar di saat matahari sudah terbenam dan dia harus kembeli pulang sebelum matahari terbit.hm.... kayak "Vampire aja ya" tapi ternyata, tidak lain dan tidak bukan dia menderita pemyakit yang dinamakan XP  ( Xeroderma Pigmentosum).
          Penyakit ini   ternyata adalah penyakit yang langka dan ditransmisikan melalui sifat resesif pada autosom berupa kerusakan pada mekanisme perbaikan DNA. Namun meskipun tergolong penyakit langka (Frequensi di US dan Eropa adalah sekitar 1 kasus per 250.000 populasi; frekuensi di Jepang adalah sekitar 1 kasus per 40.000 populasi), XP ditemukan hampir pada seluruh ras manusia di bumi.Jika terkena sinar Matahari, sel-sel kulit akan rusak. Freckles (bercak-bercak hitam) akan muncul di bagian-bagian kulit yang terbuka. Pola penyebaran bercak ini khas, hanya muncul di bagian kulit yang tidak tertutup oleh pakaian. Misalnya, wajah, leher, lengan, atau tungkai. Di bagian yang terlindung dari sinar Matahari (misalnya di dada dan perut), kulit tidak mengalami masalah apa-apa.
           Bercak-bercak hitam ini memang tidak terasa gatal atau sakit. Tapi jika kulit terus-menerus dibiarkan terpapar sinar Matahari, masalahnya bisa menjadi serius. Penyakit bisa berkembang menjadi kanker kulit.
           Meskipun bisa ganas dan menjalar ke mana-mana, penyakit XP-nya sendiri (bukan kankernya) tidak terlalu sulit dikendalikan. Pantangannya hanya sinar Matahari. Ini yang seratus persen harus dihindari.
Pada orang sehat, sinar Matahari yang sebaiknya dihindari hanya pada pukul 10.00 – 15.00. Sebelum pukul sembilan, sinar Matahari malah bisa bermanfaat membantu pembentukan vitamin D di dalam tubuh. Tapi pada penderita XP, sinar Matahari pukul berapa pun harus dihindari. Tak bisa ditawar sama sekali kalau pasien ingin sehat. Bahkan sinar Matahari paling pagi pun harus dihindari. Paparan UV dalam dosis sangat kecil saja sudah bisa membuat kulitnya bereaksi.




Sabtu, 25 September 2010

Islam dan Science

    
Islam dan Science 
Sutera Laba-laba


“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”
(QS. Thaahaa, 20: 98)
      Sutera yang dibuat laba-laba jauh lebih kuat dibanding serat alami atau serat sintetik manapun yang kita kenal. Menyadari hal ini, para ilmuwan mulai bereksperimen untuk memahami bagaimana laba-laba membuatnya. Mereka yang pertama kali melakukannya berpikir bahwa hal tersebut semudah mengambil sutera dari ulat sutera. Namun ternyata pikiran mereka keliru.

    Setelah melakukan riset, ahli zoologi evolusioner dari Aarhus University Denmark, Fritz Vollrath menyatakan bahwa tidak mungkin untuk memperolehnya secara langsung dari laba-laba. Menghadapi kenyataan ini, para ilmuwan mendapat gagasan alternatif berupa "produksi sutera laba-laba buatan". Namun sebelum itu, para peneliti harus mengetahui cara laba-laba membuat suteranya. Dan ini membutuhkan waktu beberapa tahun.           Dalam karyanya beberapa waktu kemudian, Vollrath menemukan beberapa bagian dari cara pembuatan tersebut. Cara yang digunakan laba-laba sungguh serupa dengan proses yang digunakan untuk membuat serat-serat industri seperti nilon: laba-laba mengeraskan suteranya dengan mengasamkannya. Vollrath memusatkan penelitiannya pada laba-laba taman yang dikenal sebagai Araneus diadematus, dan memeriksa saluran yang dilalui sutera sebelum keluar dari tubuhnya. Sebelum memasuki saluran ini, sutera terdiri dari protein-protein sutera. Di dalam saluran ini, sel-sel khusus mengeluarkan air dari protein-protein sutera tersebut. Atom-atom hidrogen yang diambil dari air tersebut dipompakan ke bagian lain dari saluran dan menghasilkan bak asam.         Ketika protein-protein sutera bersentuhan dengan asam tersebut, protein-protein ini melipat dan saling membentuk jembatan-jembatan yang mengeraskan suteranya.( Discover, How Spiders Make Their Silk, October 1998, p. 34 ) Tentu saja pembentukan sutera ini tidak sesederhana itu. Agar sutera terbentuk, diperlukan bahan-bahan lain dengan segudang sifat yang beragam.

         Cukup dengan mengamati kelenjar sutera kita akan menyadari bahwa laba-laba tidak dapat muncul secara kebetulan. Gambar ini menunjukkan kelenjar-kelenjar pada bagian kanan tubuh laba-laba Madagaskar (Nephila mada-gascarensis). Terdapat juga kelenjar pada bagian kiri tubuh. Kelenjar sutera 1 dan 2 menghasilkan sutera kering untuk berpegangan bagi laba-laba saat berjalan di jaringnya, atau ketika memanjat naik dan turun. Sutera lengket dihasilkan di kelenjar lain (3). Sutera dasar ini dilapisi dengan kelenjar adhesif (lengket) (4 dan 5). Kelenjar ke-6 memproduksi zat rekat yang dibutuhkan untuk menempelkan sutera di permukaan lain. Kelenjar ke-7 memproduksi bahan dasar untuk sebuah sutera tipis yang khusus untuk membungkus mangsa setelah tertangkap. Kelenjar ke-8 menghasilkan sutera untuk kepompong. Nomor 9, 10, dan 11 menunjukkan cerat-cerat pemintal (nosel sutera). Laba-laba membuat suteranya dengan menggunakan sistem yang tak ada bandingannya ini. Jelaslah sistem ini, dengan berbagai struktur dan fungsinya yang berbeda-beda, tidak dapat muncul melalui peristiwa kebetulan. Laba-laba diciptakan lengkap dengan sistem ini oleh Allah yang Mahakuasa.



      Bahan mentah sutera laba-laba adalah "keratin", suatu protein yang tampil sebagai untaian helikal terjalin dari rantai-rantai asam amino. Bahan ini juga ditemukan pada rambut, tanduk dan bulu binatang. Laba-laba memperoleh semua bahan mentah suteranya dari sintesis asam-asam amino dari hasil pencernaan mangsanya. Laba-laba juga makan dan mencerna jaringnya sendiri sebagai bahan untuk membuat jaring berikutnya.
http://www.keajaibanlabalaba.com/5.htm *


*http://www.kaunee.com/index.php?option=com